Papuainsight.id | Nabire, PT – Dari semangat anak muda Papua, lahir sebuah inovasi yang tidak hanya menjawab kebutuhan daerah, tetapi juga menawarkan solusi nasional. Marsel menggagas langsung aplikasi “Siap MBG”, sebuah sistem digital untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan transparan, akuntabel, dan tepat sasaran.
Sejak awal, Marsel tidak berjalan sendiri. Ia mengajak putra-putri terbaik Papua, khususnya dari Nabire, untuk membangun sistem ini bersama. Mereka yang pernah menempuh pendidikan hingga luar daerah bahkan luar negeri, kini kembali dengan membawa ilmu dan pengalaman untuk membangun tanah kelahiran.
“Kami ingin memastikan program MBG berjalan transparan dan tepat sasaran. Karena itu, kami menghadirkan sistem yang mampu mengawasi seluruh proses dari awal hingga akhir,” tegas Marsel.
Aplikasi Siap MBG bekerja secara menyeluruh. Sistem ini mencatat pergerakan dana sejak masuk ke rekening, memantau proses pembelanjaan di tingkat masyarakat, hingga memastikan makanan diproduksi dengan standar yang baik di dapur. Selain itu, aplikasi ini juga mengontrol kinerja tenaga kerja secara harian.
Lebih dari itu, Marsel membuka akses aplikasi kepada publik. Dengan langkah ini, masyarakat dapat memantau langsung jalannya program, termasuk penggunaan anggaran.
“Ke depan, masyarakat bisa melihat langsung bagaimana anggaran dikelola, bukan hanya menerima informasi,” jelasnya.
Di balik inovasi ini, tersimpan cerita tentang harapan. Banyak anak muda Papua yang selama ini belum mendapatkan ruang untuk berkarya. Melihat kondisi tersebut, Marsel merangkul mereka dan mengajak terlibat dalam proyek strategis ini.
“Saya percaya mereka punya kapasitas besar. Karena itu, kami bekerja bersama untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Tim pengembang terdiri dari talenta muda di bidang teknologi informasi. Bahkan, salah satu di antaranya memiliki pengalaman belajar di lingkungan perusahaan teknologi global. Meski identitas mereka belum dipublikasikan, kontribusi mereka mulai menunjukkan hasil nyata.
Namun di lapangan, tantangan tetap muncul. Marsel mengungkapkan bahwa dari total 14 dapur MBG, sebanyak 13 sempat beroperasi sebelum dilakukan evaluasi menyeluruh.
“Sebanyak tujuh dapur kami tutup sementara. Satu karena kasus gangguan pencernaan, satu karena pelanggaran operasional, dan lima karena belum memenuhi standar IPAL,” jelasnya.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan, meskipun berdampak pada distribusi ke sejumlah sekolah. Saat ini, proses perbaikan terus berjalan. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lima dapur bahkan telah mencapai sekitar 90 persen.
Di sisi lain, Marsel menyoroti kebutuhan mendesak akan laboratorium pengujian di Papua Tengah. Hingga kini, daerah tersebut belum memiliki fasilitas uji sendiri.
“Setiap kejadian terkait makanan harus dibuktikan secara ilmiah. Saat ini kita masih kirim sampel ke Jayapura,” katanya.
Proses pengujian tersebut memerlukan waktu, karena sampel harus dikemas dan dikirim melalui bandara sebelum dianalisis oleh Badan POM. Kondisi ini kerap menimbulkan keterlambatan informasi di tengah masyarakat.
“Kalau ada laboratorium di sini, hari itu juga kita bisa tahu hasilnya,” ujarnya.
Kini, kehadiran Siap MBG menempatkan Nabire sebagai salah satu pusat inovasi dari Papua. Lebih dari sekadar aplikasi, sistem ini menjadi simbol bahwa Papua mampu menghadirkan solusi besar untuk Indonesia.
Dari dapur sederhana hingga sistem digital terintegrasi, semua bergerak dalam satu tujuan: memastikan setiap anak mendapatkan makanan bergizi melalui proses yang jujur, transparan, dan bertanggung jawab. (*)

















